Tips Membangun Startup Agar Terhindar dari Kegagalan

Fenomena startup di Indonesia memang sedang menjamur. Mulai dari industri travel, sampai transportasi semua tumbuh subur dan berkembang begitu pesat. Namun beberapa dari kita masih ada yang sedikit bingung, apa sih sebenarnya startup itu?

Startup adalah perusahaan yang berdiri di tengah resiko dan dibangun atas inisiatif dengan tipikal baru muncul, dengan bisnis yang cepat berkembang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan mengembangkan atau menawarkan produk, proses, atau jasa inovatif. Sebuah startup biasanya adalah perusahaan seperti bisnis kecil, sebuah partner atau organisasi yang merancang model bisnis terukur.

Dari penjelasan di atas, tentunya kita penasaran bagaimana sih cara membuat sebuah startup? Bagaimana pula mengembangkannya agar terhindar dari keterpurukan?

Yuk, simak tips berikut ini

a. Jangan Kalap Setelah Mendapatkan Investor
Uang yang diberikan investor bukanlah buat berpesta pora dihabiskan begitu saja. Dana dari investor adalah uang milik para investor yang dalam jangka waktu tertentu harus dikembalikan.

Setelah mendapat pendanaan, seorang founder seharusnya langsung menganalisis segala hal dalam startup yang ia dirikan. Bila ada suatu produk yang terlihat bisa menghasilkan keuntungan besar, gunakanlah dana yang agan miliki untuk mendukung produk tersebut.

Investor juga gak serta merta membuang-buang uangnya untuk startup yang tidak punya sense of responsibility dalam menghasilkan profit gan. Alfred Sloan, pebisnis otomotif Amerika, pernah mengatakan “tujuan utama dari sebuah perusahaan adalah untuk menghasilkan uang.” Peter Ducker, seorang konsultan asal Australia yang juga selaku pendidik dan penulis di bidangan manajemen, mengatakan kalau profit bukan tujuan bisnis, melainkan justru sebagai tes atas keabsahan bisnis tersebut. Dari dua pandangan yang sedikit berbeda tersebut kita bisa ngambil kesimpulan, tanpa profit apalah arti sebuah bisnis.

b. Cermat Mengalokasikan Dana untuk Marketing
Gunakan dana untuk marketing dengan cermat. Kalau produk kamu merupakan sesuatu yang umum dan punya banyak kompetitor, seperti produk makanan, fashion, maka kamu harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk marketing. Sebaliknya kalo produk kamu niche, maka gak perlu banyak uang untuk marketing, karena produk kamu sudah punya peminatnya dan menjawab kebutuhan pasar dengan produk yang unik.

c. Bergerak Cepat dalam Melakukan Perubahan
Ada tiga kunci menemukan ide bisnis: mengkopi, inovasi, atau reinventing (memperbaiki inovasi sebelumnya).

Gojek gak hanya melakukan inovasi, tapi juga reinventing dari ide bisnis para kompetitornya. Gojek mampu menjawab kebutuhan pasar. Awalnya Gojek di tahun 2010 menggunakan layanan call centre, lalu di tahun 2015 Gojek merilis aplikasi iOs dan Android seiring maraknya penggunaan smartphone. Layanan pun berkembang dari yang awalnya terbatas pada jasa antar manusia dan barang, berkembang menjadi bermacam jasa menjadi Go-Food, Go-Mart, Go-Massage, Go-Box, hingga merambah kendaraan roda empat yaitu Go-Car mengikuti jejak kompetitornya Uber. Kini, Gojek pun termasuk dalam daftar startup bergelar ‘unicorn’, yaitu startup yang memiliki valuasi senilai 1 miliar dolar Amerika (sekitar 13,1 triliun rupiah) atau lebih.

Banyak fakta yang menunjukkan bahwa bisnis gak akan bertahan bila tidak cepat beradaptasi terhadap pasar dan berhenti menciptakan inovasi baru. Kita bisa mengambil pelajaran dari jatuhnya Nokia. Sebelumnya Nokia adalah perusahaan dengan reputasi tinggi. Mereka enggak gagal dalam bisnisnya, tetapi tuntutan dunia teknologi begitu besar dan dunia berubah dengan cepat. Kompetitor mereka terlalu kuat. Mereka ketinggalan dalam hal inovasi dan kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup dan berkembang.